POLHUK

NASIONAL

PEDAGOGI

EKBIS

OPINI

Kenangan Sejarah, Tempat Istirahat Mending Sultan Mudaffar Sjah yang Terabaikan

Rabu, 06 Desember 2017 | 20.34 WIB
Kali Dibaca |

Sebarkan:
Kedaton Ici saat dikunjungi pewarta

Laporan Ruslan Habsy

Adalah Kedaton Ici (Keraton Kecil-red), salah satu asset plus situs sejarah di desa Lako Akediri, Kecamatan Sahu, yang kini tinggal kenangan. Asset yang dibangun secara gotong royong sekitar tahun 80-an, untuk dijadikan sebagai tempat peristirahatan Alm Sri Sultan Ternate, Mudaffar Sjah. Yang kala itu masih berstatus sebagai Ngofa Ou (Sultan Muda).

Awalnya, Kedaton Ici, dibangun dengan gaya klasik, terlihat dari bahan yang digunakan, dimana hanya beratapkan daun kelapa dan papan sebagai dinding kedaton. Di bangunan sederhanan inilah kerap kali menjadi tempat peristirahatan mendiang Sultan Mudaffar Sjah. Hampir setiap tahunnya beliau di sini saat menjalani prosesi mandi Safar, menyambut datangnya bulan ramadhan. 

"Kala itu, Kedaton Ici ini, dibangun secara swakelola oleh seluruh masyarakat adat. Mulai Galela, Akelamo Kao, Kao, Loloda hingga warga desa Marimbati dan Lako Akediri," tutur Samsu Miradji, tokoh adat desa Lako Akediri. 

Lokasi Kedaton Ici ini, terbilang cukup strategis, semacam paradise bagi warga desa Lako Akediri. Sebab, sejauh mata memandang, lokasi ini seperti berpagar garis pantai, sekelilingnya sejuk penuh pohon - pohon Bintangor (Capilong) nan rimbun. 

Keindahan Kedaton Ici semakin lengkap dengan hadirnya hutan mangrove dan juga sungai yang mengalir jenrih. Kawasan mangrove itu kini secara perlahan disulap oleh warga desa setempat sebagai salah satu destinasi wisata Marimbati, saat ini telah dirubah namanya menjadi Bubane Saicico (Pantai yang indah). 

Sayangnya, semakin ramai kunjungan pada destinasi wisata ini, Kedaton Ici luput dari perhatian, dan kondisinya begitu mengecewakan. Meski bangunannya masih berdiri kokoh, namun kondisi Kedaton Ici saat ini sudah rusak berat, benar-benar terabaikan.

"Sebenarnya diperhatikan, namun karena dibangun secara swakelola, makanya anggaran menjadi kendala saat ini," tambah Samsu. Sambil mengajak sejumlah wartawan pada Rabu 6 desember 2017, mengelilingi dan melihat langsung kondisi bangunan Kedaton Ici. 

Bangunan bersejarah Kedaton Ici pernah direnovasi pada tahun 1995, atapnya yang dahulu begitu artistik kini telah berganti genteng, bahkan dindingnya pun telah berubah. Tempat peristirahatan mendiang Sultan ini memiliki panjang sekitar 12 meter dan lebar 11 meter dengan tinggi 3 meter, memiliki ruang kamar, teras dan dapur. 

"Renovasi ini juga hasil dari swadaya masyarakat," ucap Samsu.

Seingat Samsu, lanjutnya, kunjungan terakhir mendiang Sultan Mudaffar Sjah ke Kadaton Ici, terjadi pasca konflik horizontal, tepatnya pada tahun 2004, ketika memperkenalkan dan menitipkan mendiang Abdullah Sjah, sebagai Sultan Jailolo. 

"Kita sudah berkoordinasi dengan pihak Dinas Pariwisata. Namun, yang menjadi ketakutan serta alasan pemerintah, akan terjadi perebutan pada bagunan ini," sambung Samsu.

Meski demikian, ke depan, pihaknya bakal berupaya untuk merenovasi, bangunan tersebut untuk dijadikan asset serta situs sejarah desa.

"Ini sudah diatur dalam undang-undang desa, nomor 6 tahun 2014. Jadi semua bisa menjadi kewenangan otonomi desa, makanya, ini akan kita dorong melalui Dana Desa (DD)," tutup Samsu, yang juga pengelola lokasi pariwisata Bobane Saicico.

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru