POLHUK

NASIONAL

PEDAGOGI

EKBIS

OPINI

Bekal Belajar di Amerika, Wahyuni Gagas 'Social Enterprise' di Tidore Kepulauan.

Jumat, 22 Desember 2017 | 02.47 WIB
Kali Dibaca |

Sebarkan:
Wahyuni Wulandari Mutmaina

"Dengan kecerdasan jiwalah, manusia menuju arah kesejahteraan." Kalimat sakti Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan Nasional ini sepertinya diresapi benar oleh sosok Wahyuni Wulandari Mutmaina (25). 

Perempuan energik itu telah berhasil menembus mimpinya untuk belajar di Amerika Serikat, dan kini ingin mengamalkan Ilmunya di tanah kelahirannya, Kota Tidore Kepulauan (Tikep) lewat gerakan Social Enterprise atau Kewirausahaan Sosial. 

Perempuan cerdas kelahiran 4 Noveber 1992 ini adalah salah satu peserta yang diterima dalam program YSEALI (Young Southeast Asian Leaders Initiative Program).

YSEALI adalah program yang pertama kali dibentuk pada tahun 2013,  bentukan President Amerika Serikat (AS), Barrack Obama. Inilah pintu masuk Wahyuni mendapat kesempatan study di University of Connecticut selama 5 bulan dan ahirnya ia lulus dalam program study Social Entrepreneurship and Economic Development. 

Wahyuni saat foto bersama teman-teman studynya 

Sebelumnya, Wahyuni menempuh pendidikan Strata Satu di Universitas Sam Ratulangi (Unstrat) - Manado pada Program Studi Sastra Inggris. 

Kamis, 21 Desember 2017, sekitar pukul. 14.30 WIT, di Djoung Caffe, Uny - sapaan akrabnya, menceritakan kepada wartawan media ini sejumlah rintangan yang dihadapinya saat mengikuti seleksi meraih beasiswa luar negeri.

"Everything is possible (tidak ada yang tidak mungkin)" katanya seraya menebar senyum khasnya. 

Untuk mendapat beasiswa, Uny harus berulang kali mengajukan permohonan, terhitung ada sekitar 30 kali mengajukan permohonan beasiswa melalui situs online. Itu semua dia lakukan hanya untuk mewujudkan mimpinya belajar di negeri Paman Sam. Meski saat mengajukan permohonan itu, tantangan terberatnya adalah kondisi jaringan internet yang sering Lola (loading lama) dengan menggunakan modem milik ayahnya, dia pun berhasil memenuhi berkas persyaratan untuk melanjutkan studinya. 

Kini Anak dari Fachrul Altarans dan Nurhayati Togubu ini, melalui program Awardee LPDP angkatan pertama yang akan berangkat studi di Amerika Serikat melalui beasiswa dari Kementrian Keuangan tahun 2019 mendatang.

Wahyuni saat menerim penghargaan dari University of Connecticut

Sebelum ke negeri paman sam itu, calon mahasiswa magister Universitas Harvad ini dalam waktu dekat akan membuka English School di negeri para Sultan. Melalui Lembaga 'Broklyn Academy' yang dibentuknya tahun lalu. 

Sosok yang komunikatif, Uny beserta dua temannya, berkeinginan menularkan semangat untuk menciptakan generasi yang 'survive' dalam menghadapi era digital.

"Saya kemudian berpikir untuk memulai suatu usaha yang juga ikut mencerdaskan bangsa dengan berkomitmen untuk memberikan layanan fasilitas yang memadai serta pendidikan kursus bahsa Inggris dan konsultasi mendapatkan beasiswa ke Luar Negeri kepada adik-adik dan teman-teman yang tinggal di kota Tidore, selain itu juga untuk mengidentifikasi mimpi mereka, merancang strategi sehingga mampu mewujudkannya,” papar Uny bersemangat. 

Putri sulung dari empat bersaudara ini bercerita, bahwa semangatnya membangun generasi Tidore untuk mengenal dunia dengan berbahasa Inggris ini merupakan cita-citanya. 

"Ini bagian dari pengabdian saya kepada negeri leluhur," kata wanita yang juga pengajar di pondok pesantren Harisul Khairat Ome, Kota Tidore Kepulauan. 

Di English School ini, dirinya akan membuka 3 kelas, yaitu English for Kids untuk anak usia 7 - 12 tahun, English for Teenager untuk SMP dan SMA serta English for Professional untuk mahasiswa, pekerja yang mau tingkatkan bahasa Inggris dan mencari beasiswa ke luar negeri. 

Tingkatannya mulai Level 1 untuk Beginner dan level 2 Intermediate level 3 Expert.

"Hingga saat ini, sudah 24 orang yang terdaftar, masing-masing 13 orang di kelas Kids, 3 orang di klas teenager, dan 8 orang di kelas profesional," ungkapnya. 

Selain itu, alumni program Jarum Indonesia ini juga berencana akan membuka tes TOEFL dan IELTS.

"Ini upaya jangka panjang, supaya temen-teman di Tikep tidak perlu jauh - jauh lagi ke luar daerah," ujarnya.

Yang paling istimewa dari program Broklyn Academy adalah, menyediakan tempat belajar gratis untuk anak tidak mampu.
Liputan : Irwan Basri. 


Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru