POLHUK

NASIONAL

PEDAGOGI

EKBIS

OPINI

Hafifah: Adakah Keadilan yang Tersisa Untuk Akelamo?

Senin, 09 Oktober 2017 | 00.04 WIB
Kali Dibaca |

Sebarkan:
Pengguna Lahan, Hafifa | Foto Malut.Co

TIDORE,MALUT.CO - Hafifah, seorang wanita tangguh yang berusia hampir 50 tahun asal Akelamo Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan (Tikep) yang sudah 35 tahun menghidupi keluarganya dengan bermodalkan lahan pertanian milik negara yang di garapnya mulai dari tahun 1982 hingga sekarang 2017.

Saat Malut.Co menghampiri rumahnya Kamis, 5 Oktober 2017 kemarin. Dengan raut wajah yang nampak sedih, Mama Hafifah menyampaikan kata demi kata, meminta sedikit keadilan kiranya dapat diberikan oleh penguasa yang menempati istana megah di pemerintahan Tikep agar keadilan itu dapat dirasakan olehnya dan juga para warga Akelamo lainnya.

Bagaimana tidak? Lahan yang berisi harta satu-satunya milik warga sebagai penopang hidup selama ini, yang sudah puluhan tahun di garap kini dibabat habis oleh orang-orang yang mengaku dirinya berkuasa tanpa memikirkan dampak yang menimpa rakyat kecil. Kami yang dulunya hidup dengan tentram, kini ketentraman itu seakan sirna karena hadirnya orang-orang besar yang merasa dirinya berkuasa.

"Pak..!!! Itu lahan sudah puluhan tahun kami garap pak... Mau makan apa kami kalau lahan itu di ambil??" Sedihnya sambil mengusap wajah lelahnya.

Nenek yang ditemani cucunya ini, mengisahkan kepedihaanya saat melihat 10 pohon kelapa produktif dan 8 pohon pala siap panen roboh akibat penggusuran PT. Tidore Sejahtera Bersama yang berinveatasi atas tanah seluas 125 Hektar di Kelurahan Akelamo. "Iihh.. Dong gusur itu abis tong mo mancari apa?" Tanyanya.

Dengan hasil pertanian di lahan harapan tersebut mereka mampu menyekolahkan anak-anaknya dari SD, SMP, SMA hingga Perguruan tinggi.

"Tolong jangan di gusur lagi lahan kami, hanya dengan lahan itulah kami mampuh menyekolahkan anak kami," tutup hafifah.

Berikut video wawancara tim Malut.Co



Lhy

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru