POLHUK

NASIONAL

PEDAGOGI

EKBIS

OPINI

Menjahit Harapan di Kalaodi

Senin, 14 Agustus 2017 | 20.36 WIB
Kali Dibaca |

Sebarkan:
Kelurahan Kalaodi | Foto Istimewa

Oleh : Abdullah Jumati
Sekertaris KNPI Kota Tidore Kepulauan

Apa yang kita ingat ketika menyebut Kampung Kalaodi? Kampung Ekologi.

Sekitar pukul 20.30 wit, menumpangi mobil merah meluncur menyusuri lengangnya Kota, sesekali terdengar bunyi kalakson memecah sunyi memberi isyarat kepada pengguna jalan agar berhati-hati menyebrang karena kami sedang dengan kecepatan tinggi, kurang lebih pesan dari bunyi kalakson tersebut.

Waktu terus beranjak dan perjalananpun semakin menanjak, bahkan perjalanan terasa semakin menggoda ketika kami mulai naik dan merayap mengikuti lekuk gunung Kalaodi yang begitu seksi dan harum bearoma cengkeh dan kayu manis itu.

Pukul 21.03 wit, tibalah rombongan anak muda yang berseragam biru, tepatnya di Rt. 03 Golili Kelurahan Kalaodi yang letaknya diatas ketinggian kurang lebih 900 mdpl.
Iya, mereka adalah sekumpulan anak muda yang tergabung dalam KNPI Kota Tidore Kepulauan, sebuah entitas pemuda yg kurang lebih 44 tahun eksis di Indonesia.

Di tengah gegap gempita perayaan 72 Tahun Kemerdekaan RI, malam tepat tanggal 12 Agustus, kami mencoba menepi untuk bercengkrama dengan masyarakat Golili Kelurahan Kalaodi, sekedar membagi cerita tentang pemuda hingga tentang kemerdekaan RI.

Perjanan ini merupakan bagian dari Kegiatan KNPI menyapa yang di implementasikan melalui Bacarita Pemuda, merupakan salah satu program unggulan, harapannya kian mendekatkan KNPI dengan pemuda kampung sebagai langkah mengintegrasikan ide, gagasan maupun program KNPI sebagai milik semua pemuda.

Banyak potensi dan sumber daya pemuda kita yang belum tereksplorasi secara baik, karena minimnya ketersedian ruang profesi untuk mengasah keterampilan dan kecakapan mereka, tak salah bila hari ini berbagai fenomena sosial yang muncul dan mengarah ke hal-hal negatif adalah sesuatu yang hampir tak bisa dielakkan.

Rt. 03 Golili misalnya menyimpan banyak potensi pemuda, kami menyebut mereka pemuda ungggulan, kenapa demikian? Karena pemuda Golili selain sudah banyak yang berpendidikan sarjana, mereka memiliki etos kerja yang tinggi, mereka ditempa dengan kerja-kerja  keseharian yang keras dengan menghabiskan waktunya dilahan pertanian maupun perkebunan. Tak heran jika kelurahan ini menjadi salah satu dari sekian kelurahan penghasil cengkeh terbesar di Tidore.

Selain itu kelurahan Kalaodi juga memiliki lahan pertanian yang subur, karena banyak sayuran, mulai mentimun, terong sampai pada sayur lilin juga banyak di produksi dari sini.

Bacarita (bercerita) pemuda terlaksana begitu hangat, penuh kekeluargaan. Se-hangat suguhan kopi dengan cemilan khas pisang raja goreng dan kacang goreng. Menggugah selera.

Aroma kopi guraka (jahe) daun pandan yang dicampur dengan kayu manis, kopi khas Kalaodi. Bak menemukan oase dalam perjalanan jauh menaklukan gurun, begitu nikmat.

Ditamba sambutan hangat dari para pemuda/pemudi kampung, lembah Tagafura yang di pagari rimbunan pohon cengkeh, kayu manis dan pohon durian menjadi saksi, betapa pergumulan ide ini begitu menyehatkan.

Kesenangan biasanya memiliki kecepatan melipat waktu, tak terasa malam sudah larut, diskusi atas sejumlah wacana telah menemukan simpulnya.

Para pemuda/i Kalaodi cukup aktif dalam diskusi. Setelah melewati percakapan panjang antara KNPI dan pemuda Golili pada sesi bacarita pemuda malam ini, dari sekian catatan penting menjadi harapan masyarakat Golili yang patut di beri perhatian adalah upaya untuk menjadikan kampung mereka sebagai desa adat, karena kelurahan Kalaodi memiliki karakteristik desa yang kuat di mana berbagai tradisi leluhur masih terpelihara baik sampai hari ini.

Harapan yang berdasar, bahwa kehadiran UU no. 6 Tahun 2014 telah membuka pintu kesempatan yang lebar bagi Desa menjadi kelurahan begitu pula sebaliknya kelurahan menjadi desa.

Mengingat keterbatasan anggaran Kota Tidore Kepulauan di tengah-tengah tuntutan pemerataan pembangunan, pelayanan dan pemberdayaan masyarakat maka penting rasanya menyiapkan opsi tambahan untuk merekayasa kekurangan kita, KNPI tentunya sebagai bagian dari instrument pembangunan di daerah ini, mencoba menawarkan untuk meninjau kembali beberapa kelurahan untuk menjadi desa dan beberapa dusun di naikan statusnya menjadi desa.

Karena jika harapan menjadi Desa terpenuhi, dengan alokasi anggaran desa yang melimpah saat ini, maka banyak kekurangan dan kebutuhan desa tertutupi.

Kegiaatan ini mungkin hanya ide kecil untuk Kota Tidore Kepulauan bahkan Indonesia di HUT RI yang ke-72, karena kemerdekaan bermakna pembebasan, maka upaya penyadaran akan hak-hak rakyat untuk memperoleh kebahagiaan adalah sesuatu yang wajib hukumnya.

Diskusi berakhir, jabat tangan pamit sebagai penutup.

Pertemuan dengan warga Kalaodi memberi banyak kesan, yang terpenting adalah kita mau mendengar dan berbuat menuju pemuda Kota Tidore Kepulauan hebat.

Bangga Ber-KNPI
Bangga Jadi Pemuda Tidore
Dirgahayu RI Ke-72

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru