POLHUK

NASIONAL

PEDAGOGI

EKBIS

OPINI

GOSIP: Apakah Selalu Bermakna Negatif?

Rabu, 23 Agustus 2017 | 22.45 WIB
Kali Dibaca |

Sebarkan:

Abdullah Totona
Pegiat Kajian Humaniora

Gosip adalah istilah yang sering kali ditemui dalam aktivitas hidup kita, sebagai manusia. Bahkan, ia telah melekat dalam kehidupan manusia tersebut. Pun tak bisa dihindari, salah satunya yang sering terlihat adalah dalam setiap acara-acara di media televisi maupun Smartphone (telpon cerdas) pada pagi hari maupun siang hari. Pemaknaan mengenai gosip sebagai suatu kejadian yang belum pasti akan terjadi dan dianggap sebagai pola untuk mencari sensasi dan popularitas oleh sesorang atau kelompok tertentu (missal; kisah percintaan, perceraian, partai politik, organisasi keagamaan, dll).

Pelebaran makna gosip pada media televisi ini kemudian sering dipakai atau diartikan oleh masyarakat kita dalam kehidupan sosial dengan sebutan fitna (berbohong) atau nama trend Hoax, Namun sebenarnya pemaknaan ini hanya suatu cara pandang  yang perlu diuji pengandaian-pengandaiannya.

Seakan-akan kata gosip sudah selalu menjadi ruang yang a-sosial, di mana orang-orang yang melakukan tindakan seperti ini dianggap sebagai seorang yang iri hati, tidak ada kerja lain, dan bahkan dikucilkan dari pertemanan lingkungan sosial, tempat ia hidup. Lalu, dengan begitu gossip telah melekat dalam kehidupan sosial masyarakat sebagai kata yang bermakna negatif.

Selain itu, Gosip juga kerap kali dimaknai hanya sebatas pada tataran simbolik, atau dengan kata lain seseorang dianggap berbuat gosip ketika ia menceritakan diri orang lain kepada teman, tetangga, atasan, maupun teman sekantor mengenai suatu kejadian, entah masalah ekonomi, sosial, pemimpin dan juga prilaku sosial seseorang. Namun akan berbeda bila pemahaman tentang gosip ditempatkan pada wilayah humanis, dalam arti gosip dapat menciptakan ruang komunikasi dan berspekulasi terhadap arti keberadaan kita sebagai masyarakat. Juga cara di mana orang mengkritik suatu hal yang dianggap tak sesuai dengan prinsip hidup sebagai sesama manusia, atau pula sebagai seorang pemimpin dengan rakyat. Namun, hanya saja cara ini tidak lagi berpretensi dengan aturan atau norma yang ada dalam masyarakat.

Bila kita menenggok sebentar ke-belakang, secara historis kita bisa melihat gambaran mengenai gossip yang jauh sebelumnya telah dibicarakan oleh Malinowski (Antropolog behavorial), di mana ia berkata bahwa ketika para antropolog dan budaya ingin mempelajari dunia sehari-hari sebagai kunci untuk memahami kelakuan manusia, maka ahli-ahli budaya dan antropolog mulai mempelajari lebih mengenai makna gosip (Baca Mudji Sutrisno,2010:90). 

Mengapa harus gosip?  Karena gosip lahir dari lingkungan kehidupan  sosial manusia sehari-hari yang terlanjur dimaknai sebagai tindakan yang tidak terpuji. Begitulah ajakan Malinowski kepada para ahli agar tidak hanya memandang gossip sebagai aktifitas yang tidak bermakna. Gosip secara umum dipahami sebagai cerita-cerita yang dilahirkan oleh seseorang, yang secara sosial ingin menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian baik sebagai diri yang pandang maupun memandang.  Sebagai subjek di saat ia membayangkan dirinya bebas mengungkapkan narasinya, sementara secara objek ia kemudian menjadi bahwan perbicangan untuk sementara waktu..

Gosip sudah selalu berlabel pada makna yang negative  (common science) dan telah menolak makna yang lain. Makna yang lain yang dimaksud adalah makna budaya (identitas) sosial (saling menukar informasi) politik (kepentingan). Pada hal Gosip bukan hanya sebatas hal yang dianggap tak bernilai atau tak bermoral.  Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Mudji, bahwa gosip merupakan proses komunikasi “meta”(Baca Mudji, 2010:91). Artinya bahwa proses komunikasi ini mengandaikan bahwa setiap orang dapat membangun kesadaran serta mengecek setiap aktivitas yang dispekulasikan. Diobjekkan sebagai cita-cita kebudayaan, yang dijadikan sebagai contoh untuk merefleksikan hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan kehidupan kebudayaan dan sosial. yakni melalui dunia gosip.

Dengan kata lain, bahwa selama gossip masih berkaitan dengan kehidupan sosial dan kebudayaan yang dispekulasikan oleh masyarakat sebagai objek yang berkaitan dengan kehidupan mereka, maka gossip telah bermakna kritik. Makna kritik ini adalah bagian dari ungkapan masyarakat untuk memposisikan diri mereka sebagai identitas yang terdominasi oleh kuatnya budaya baru yang tumbuh saat ini. tumbuhnya budaya baru ini dapat dilihat melalui dorongan modernitas, yakni budaya lifestyle, intoleran, individual dan sebagainya. Dengan demikian makna gosip tak selalu bersifat negatif, namun hanya saja ia tak berpretensi menggikuti tatanan norma yang ada. Sekian.

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru