POLHUK

NASIONAL

PEDAGOGI

EKBIS

OPINI

Amina Sabtu, Benang Nanas, dan Simbol Perlawanan Kawasan Timur Indonesia

Jumat, 18 Agustus 2017 | 16.04 WIB
Kali Dibaca |

Sebarkan:
Penjahit Bendera Merah Putih, Amina Sabtu | Malut.Co/Ramli

TIDORE,MALUT.CO-  Amina Sabtu (90) merupakan sedikit orang yang menjadi saksi sejarah kemerdekaan Republik Indonesia.  Beliau merupakan sosok penting dalam menyatukan wilayah bagian Timur Indonesia. Aminah Sabtu juga orang yang menjahit bendera merah putih yang dikibarkan pertama kali di wilayah Indonesia Timur, tepatnya di daerah Tanjung Mafu Tabe, Kelurahan Mareku Kecamatan Tidore Utara Kota Tidore Kepulauan (Tikep), pada tahun 1946 silam. Bendera Merah Putih yang di jahit oleh beliau begitu istimewa, karena menjadi simbol Tidore dan kepulauan Maluku sebagai bagian dari Republik Indonesia.

Atas jasanya tersebut  usai upacara Jumat, 18 Agustus 2017 yang berlangsung pagi tadi di kelurahan Mareku, Amina Sabtu mendapatkan sebuah piagam penghargaan yang diberikan oleh pihak kesultanan Tidore sebagai penjahit bendera merah putih pertama di Indonesia Timur.
Penyerahan penghargaan dari Kesultanan Tidore kepada Amina Sabtu | Malut.Co/Ramli

Bendera yang dikibarkan pada tanggal 18 Agustus 1946 tersebut yakni kain merah putih yang diambil dari karpusa jin dan dijahit dengan serat nenas, yang kemudian dikibarkan oleh almarhum bapak Abdullah Kader. yang dibawahnya bertuliskan "BARANG SIAPA YANG MENURUNKAN BENDERA INI, DATANG MERDEKA DIGANTI DENGAN NYAWA".

Kisah heroik bendera merah putih pertama ini, awalnya akan dikibarkan di Jembatan Residen, Ternate. Namun ketatnya penjagaan tentara Belanda saat itu, membuat Abdullah dan kawan-kawannya harus mengubah rencana.

Menggunakan perahu sampan, mereka kembali ke Pulau Tidore dan mulai mencari tempat yang strategis untuk menancapkan simbol perlawanan terhadap pendudukan Belanda yang masih berlangsung di Maluku Utara tersebut. Dan  Tanjung Mafu Tabe Mareku kemudian dianggap sebagai lokasi yang pas untuk menancapkan bendera merah putih tersebut, berada di ketinggian dan menghadap langsung laut, menjadi pilihan cerdas kala itu.

Ternyata pengibaran bendera ini berbuntut panjang. Puluhan tokoh Pemuda dan tokoh masyarakat ditangkap PoIisi Belanda dan dipenjarakan dibenteng Oranje Ternate. Sementara Bapak Abdullah Kader ditangkap dan disiksa polisi Belanda di Soasio. 

Penangkapan itu tidak menyurutkan nilai perlawan para pemuda-pemuda Tidore, malah membangkitkan amarah masyarakat Mareku, hingga asrama polisi Belanda di Soasio diserang oleh masyarakat, hingga polisi Belanda melarikan diri ke Ternate.

Namun, kisah heroik mereka hampir terlupakan. Karena sudah berulang kali masyarakat mareku melakukan upacara ditempat ini tidak ada satupun keterwakilan dari pemerintah kota Tidore yang turut hadir walaupun undangan sudah diberikan.

"Kalau pemerintah di masa yang lalu selalu berpartisipasi dalam kegiatan ini," ucap Umar Yasin dari Sangaji Laho. 

Lhy

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru