POLHUK

NASIONAL

PEDAGOGI

EKBIS

OPINI

MEDSOS, PANCASILA & POHON AMO (Sukun)

Kamis, 01 Juni 2017 | 19.11 WIB
Kali Dibaca |

Sebarkan:


Oleh : Ardiansyah Fauzi
Novelis


Malam ini sangat special, selain karena bulan suci ramadan, ada sebuah falsafah besar yang lahir di tanggal ini, satu ikatan yang telah terbukti mampu menyatukan Nusantara dengan berbagai macam ragam hingga saat ini.


Pukul 00.05 wit, berseliweran ribuan status di media sosial, ada yang sekedar untuk mengingatkan diri sendiri, atau juga mengingatkan orang banyak. Ada juga yang hendak memberitahukan, besok tanggal merah, libur.


Beberapa jam kemudian, di twitter, sekira pukul 04.04 WIT, waktu sahur untuk Indonesia bagian timur, sudah sekitar 2.328 kali tweet dengan hastag "Saya Indonesia, Saya Pancasila" Urutan ke 5 trending topik dunia, penulis percaya, besok pagi, selesai Upacara Hari Lahir Pancasila, pasti sudah menempati urutan pertama trending topik dunia.


Mungkin penting menilik waktu dan kondisi kelahiran Pancasila, setelah kita baca status-status memperingati "Hari Lahir Pancasila" dengan tambahan kata-kata heroik di banyak media sosial.


Pidato presiden pertama Indonesia dengan judul "Lahirnya Pancasila" adalah pidato yang sangat bersejarah. Berikut penulis mengutip pidato hebat itu dari sebuah laman www.academica.edu, Isi lengkap pidato Ir Soekarno 1 Juni 1945;


Paduka Tuan Ketua yang mulia! Sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari Paduka Tuan Ketua yang mulia untuk mengemukakan pula pendapat saya. Saya akan menepati permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia. Apakah permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia? Paduka Tuan Ketua yang mulia minta kepada sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai untuk mengemukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saya kemukakan di dalarn pidato saya ini.


Maaf, beribu maaf! Banyak anggota telah berpidato, dan dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal yang sebenarnya bukan permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia, yaitu bukan dasarnya Indonesia Merdeka.


Menurut anggapan saya, yang diminta oleh Paduka Tuan Ketua yang mulia ialah dalam bahasa Belanda: Philosofische grondslagdaripada Indonesia Merdeka.
Philosofische grondslag itulah pondamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi.


Hal ini nanti akan saya kemukakan, Paduka Tuan Ketua yang mulia, tetapi lebih dahulu izinkanlah saya membicarakan, memberitahukan kepada Tuan-tuan sekalian, apakah yang saya artikan dengan perkataan “merdeka”.


Merdeka buat saya ialah: political independence, politieke onafhankelijkheid. Apakah yang dinamakan politieke onafhankelijkheid?


Tuan-tuan sekalian! Dengan terus terang saja saya berkata: Tatkala Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai akan bersidang, maka saya, di dalam hati saya banyak khawatir, kalau-kalau banyak anggota yang saya katakan di dalam bahasa asing, maafkan perkataan ini zwaartvichtig akan perkara yang kecil-kecil. Zwaarwichtig sampai kata orang Jawa njlimet.


Jikalau sudah membicarakan hal yang kecil-kecil sampai njlimet, barulah mereka berani menyatakan kemerdekaan.


Tuan-tuan yang terhormat! Lihatlah di dalam sejarah dunia, lihatlah kepada perjalanan dunia itu. Banyak sekali negara-negara yang merdeka, tetapi bandingkanlah kemerdekaan negara-negara itu satu lama lain! Samakah isinya, samakah derajatnya negara-negara yang merdeka itu? Jermania merdeka. Saudi Arabia merdeka, Iran merdeka, Tiongkok merdeka, Nippon merdeka, Amerika merdeka, Inggris merdeka, Rusia merdeka, Mesir merdeka. Namanya semuanya merdeka, tetapi bandingkanlah isinya!


Alangkah berbedanya isi itu jikalau kita berkata: sebelum negara merdeka, maka harus lebih dahulu ini selesai itu, selesai sampai njlimet, maka saya bertanya kepada Tuan-tuan sekalian kenapa Saudi Arabia merdeka, padahal 80% dari rakyatnya terdiri dari kaum Badui, yang sama sekali tidak mengerti hal ini atau itu?


Bacalah buku Armstrong yang menceriterakan tentang Ibn Saud! Di situ ternyata, bahwa tatkala Ibn Saud mendirikan pemerintahan Saudi Arabia, rakyat Arabia sebagian besar belum mengetahui bahwa otomobil perlu minum bensin. Pada suatu hari otomobil Ibn Saud dikasih makan gandum oleh orang-orang Badui di Saudi Arabia itul! Toh Saudi Arabia merdeka!


Lihatlah pula jikalau Tuan-tuan kehendaki contoh yang lebih hebat Sovyet Rusia! Pada masa Lenin mendirikan Negara Sovyet, adakah rakyat Sovyet sudah cerdas? Seratus lima puluh milyun (juta, Red) rakyat Rusia, adalah rakyat Musyik yang lebih daripada 80% tidak dapat membaca dan menulis, bahkan dari buku-buku yang terkenal dari Leo Tolstoy dan Folup Miller.


Tuan-tuan mengetahui betapa keadaan rakyat Sovyet Rusia pada waktu Lenin mendirikan negara Sovyet itu. Dan kita sekarang di sini mau mendirikan negara Indonesia Merdeka.


Terlalu banyak macam-macam soal kita kemukakan!


Maaf Paduka Tuan Zimukyokutyoo, berdirilah saya punya bulu, kalau saya membaca Tuan punya surat yang minta kepada kita supaya dirancangkan sampai njlimet hal ini dan itu dahulu semuanya! Kalau benar semua hal ini harus diselesaikan lebih dulu, sampai njlimet, maka saya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, Tuan tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, kita semuanya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka sampai di lubang kubur! (Tepuk tangan riuh).


Penggunaan kata “Pancasila” dikenalkan pertama kali secara luas oleh Bung Karno dalam pidato tersebut. Bung Karno menjelaskan panjang lebar soal perlunya Indonesia memiliki sebuah pedoman hidup berbangsa dan bernegara seperti yang dimiliki negara lain setelah merdeka.


Ada lima butir konsep yang ditawarkan Bung Karno saat itu, yakni Kebangsaan Indonesia. Internasionalisme atau perikemanusiaan. Mufakat atau demokrasi. Kesejahteraan sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa.


Dari beberapa referensi yang penulisa baca. Buah pemikiran bung Karno akan Pancasila tidak muncul secara tiba-tiba. Pancasila hadir sebagai hasil dari proses perenungan diri selama empat tahun diasingkan ke Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Dibuangnya bung Karno ke daerah terpencil dengan penduduk berpendidikan rendah memang sengaja dilakukan Belanda untuk memutus hubungan beliau dengan para loyalisnya. Sekalipun begitu bung selalu punya cara berkomunikasi dengan orang diluar pulau pengasingan. Dan Bung Karno selama pengasingan di Ende, punya satu tempat favorit saat melakukan kontemplasi, yakni di bawah sebuah pohon sukun yang menghadap langsung ke Pantai Ende. Di bawah Pohon sukun itulah buah pemikiran Pancasila tercetus. Bung Karno pergi sendiri ke tempat itu setiap Jumat malam. Pohon sukun itu yang kemudian hari disebut pohon Pancasila.


Menurut Muhammad Hatta dalam tulisan “Wasiat Bung Hatta kepada Guntur Soekarno Putra” yang ditulis pada 16 Juni 1978. BPUPKI kemudian membentuk tim yang terdiri dari 9 orang untuk merumuskan kembali Pancasila yang dicetuskan Soekarno.


Adapun 9 orang itu adalah Soekarno, Muhammad Hatta, AA Maramis, Abikusno Tjokrosoejoso, Abdulkahar Muzakir, Agus Salim, Ahmad Soebardjo, Wahid Hasyim, dan Muhammad Yamin.
Sembilan orang itu kemudian mulai mengubah susunan Pancasila versi Bung Karno.


“Ketuhanan Yang Maha Esa” Ditempatkan menjadi sila pertama.


Sila kedua yang disebut Soekarno sebagai “Internasionalisme atau perikemanusiaan” Diganti menjadi “Perikemanusiaan yang adil dan beradab”.


Adapun sila “Persatuan Indonesia” Digunakan untuk menggantikan “Kebangsaan Indonesia."


Pada sila keempat, digunakan kata "Kerakyatan”.


Sedangkan terakhir, Sila kelima digunakan sila “Kesejahteraan Sosial”.


Pada 22 Juni 1945 rumusan hasil Panitia 9 itu diserahkan ke BPUPKI dan diberi nama “Piagam Jakarta”. Namun, ada sejumlah perubahan pada sila pertama pada Piagam Jakarta.


Hari ini usia Pancasila sudah 72 tahun. Pancasila sudah melewati banyak sekali pergolakan, dan sekali lagi, Pancasila membuktikan telah memenangkan hati seluruh rakyat Indonesia. Memang harus diakui, dimasa kini, tantangan terhadap dasar bernegara kita ini semakin berat, setiap waktu diuji, namun sepanjang usia negeri bernama Indonesia ini terbentuk, Pancasila masihlah terbukti perekat kebangsaan yang ampuh untuk menyatukan seluruh rakyat Indonesia dari Sabang-Merauke dari Nias-Rote.


Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945 - 1 juni 2017.


Akulah pendukungmu... Saya Indonesia, Saya Pancasila.


Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru