POLHUK

NASIONAL

PEDAGOGI

EKBIS

OPINI

HUJAN BULAN JUNI; SAPARDI DAN AFI NIHAYA

Jumat, 02 Juni 2017 | 07.48 WIB
Kali Dibaca |

Sebarkan:
[caption id="attachment_2370" align="aligncenter" width="600"] Ardiansyah Fauzi[/caption]
Oleh : Ardiansyah Fauzi
Novelis

"Plagiator sebenarnya hanyalah seorang pengecut yang ingin menjadi pengarang." Helvy Tiana Rosa, Sastrawan Indonesia.

Ramadan kali ini saya suka sekali menulis, tak seperti biasanya. Apa mungkin pengaruh frekuensi hujan yang meningkat? Barangkali ikut meningkat juga gigil dan rindu. Atau pada sesuatu yang tak pernah dituntaskan, semacam novel ketiga saya yang belum jua rampung? Bisa jadi. Ataukah karena ini bulan lahir saya? Adakah pengaruhnya? Entahlah!!!

Awalnya saya hendak menulis soal eyang Sapardi Djoko Damono dan puisi Hujan Bulan Juni-nya. Judul dan nama ini sudah cukup melegenda dikalangan sastrawan Indonesia. Lelaki kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940 ini memang seorang pujangga, usianya sudah lebih tua daripada republik ini, namun walau begitu, beliau tetap produktif menulis.

Aku Mencintaimu Dengan Sederhana. Kuhentikan Hujan. Hujan Bulan Juni; Adalah beberapa diantara puisi karya beliau yang bisa bikin meleleh siapa saja yang membacanya. Termasuk saya, bahkan hingga hari ini, susah sekali melepaskan seorang eyang Sapardi dari hujan. Awalnya saya berpikir beliau lahir di bulan yang begitu tabah menerima hujan, tapi ternyata salah. Kebetulan 1 juni tadi, hujan turun hampir seharian, lalu ada pertanyaan begitu melihat langit masih saja mendung, sedang apa kau saat ini eyang Sapardi?

Sedang menulis puisi kah? Atau kau juga seperti saya? Larut pada satu nama yang belakangan ini jadi tenar karena menulis beberapa penggalan ciutan di wall facebook pribadinya. Afi Nihaya Faradisa, tulisan pendek dengan judul "Warisan" tiba-tiba menjadi viral, bahkan sampai masuk bulan Juni yang basah, orang-orang sepertinya lupa pada puisi "Hujan Bulan Juni" mu eyang, tapi sekali lagi saya tak akan pernah lupa.

Dari kemarin saya memang tak mau masuk ke dalam kisah mendadak sukses adinda Afi, selain karena sudah banyak sekali orang yang mengulasnya, pikiran saya memang sedang tertuju pada puisi eyang Sapardi. Tapi saya tak munafik, beberapa hari lalu saya sempat berkunjung di laman FB Afi, pertemanannya sudah full, jadi tak bisa lagi di Add. Wallnya penuh dengan like, setiap statusnya ratus ribu orang berkomentar, saya begitu takjub, tulisan-tulisan sederhana di statusnya itu sanggup menghipnotis ratus ribu orang, luar biasa.

Adinda Afi juga sempat mempost beberapa undangan talkshow dari universitas ternama di wall pribadinya, duduk sejejar dengan para profesor hebat. Bahkan hadir juga di talkshow sebuah tv swasta, puncaknya remaja belia yang sempat menghebohkan jagad medsos diundang hadir pada upacara Hari Lahir Pancasila oleh istana. Sesuatu yang patut dibanggakan.

Tak semua yang manis akan kau nikmati setiap waktu, Ada masa pahitnya. Sekita segalanya berubah, adinda Afi memang tetap diburu tulisan-tulisannya, tapi kali ini sedikit bikin patah semangat. Tulisan dengan judul; Belas Kasih Dalam Agama Kita. Tulisan yang lumayan panjang dan menyentuh itu ternyata pernah dipost sebuah akun dengan nama Mita Handayani, pada 21 september 2016, dengan judul AGAMA KASIH. Hampir seluruh isi tulisan sama, dari mulai kata pembuka, titik koma, hingga paragraf sepanjutnya dan selanjutnya. Tak ada yang kebetulan seperti itu. Apa yang diagungkan dari seorang Afi? Memberi tanda tanya hampir disemua tulisannya.

Jika adinda Afi, benar melakukan hal seperti yang dituduhkan itu, maka sudah sepatutnya adinda mengakui dan meminta maaf pada penulis yang tulisannya sudah adinda sadur dan menjadikan hasil pikiran adinda Afi tersebut. Mumpung di bulan suci ramadan, meminta maaf bukanlah perbuatan tercela, sebaliknya menunjukan ketinggian budi. Islam mengajarkan, meminta maaf adalah perbuatan mulia.

Di dunia ini banyak sekali orang yang melakukan plagiarisme, bahkan orang sekaliber profesor sekalipun pernah melakukan itu. Tapi bukan berarti itu sebuah pemakluman atas tindakan plagiat. Dalam dunia literasi, plagiat memang haram hukumnya. Tapi apakah masih ada ide yang original saat ini? Bukankah kita semua hidup dari pikiran-pikiran orang lain, dari buku-buku yang pernah kita baca, atau literatur-literatur yang pernah bersentuhan dengan kehidupan kita? Saya bahkan mungkin kalian yang membully Afi hari ini, barangkali pernah melakukan perbuatan haram tersebut.

Sejak awal kemunculan dinda Afi, sebagaimana pengakuannya, pernah diteror berkali-kali, bahkan sampai ancaman pembunuhan. Sesungguhnya saya sangat berempati pada gadis murah senyum ini. Afi adalah orang yang satu sisi dipuja-puja, disisi lain dibully habis-habisan. Ketenaran Afi Nihaya Firdasari bahkan mengalahkan eyang Sapardi, saya tidak sedang membangun sebuah hipotesa, tapi mungkin begitulah kenyataannya seiring hujan yang kian menipis jelang buka puasa.

Eyang Sapardi dan Afi Nihaya benar-benar telah menarik saya untuk meramaikan dunia maya. Eyang Sapardi nyata, begitu juga pikiran-pikirannya. Afi Nihaya juga nyata, semoga juga dengan pikiran-pikirannya. Saya berharap, dinda Afi mau belajar dari eyang Sapardi, bagaimana menghasilkan sebuah karya yang original. Karya yang lahir dari perenungan, pergolakan bathin, dan kenyataan-kenyataan hidup yang setiap hari kita temui. Mari kita sama-sama belajar.

Menjadi orang besar tak pernah mudah, jalannya terjal, lewati ujian berkali-kali. Saya doakan adinda Afi sukses sebagai penulis hebat dimasa depan.

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru